Sepenggal Sipnosis : -Piye to kok ora bisa ditulung (bangaimana sih kok tidak bisa ditolong)? adalah pertanyaan Pak Harto ketika ia merasa limbung menghadapi kenyataan baru saja kehilangan belahan jiwanya, Ibu Tien Soeharto - istri tercinta yang puluhan tahun menemaninya mengarungi suka duka, istri yang selalu mengobarkan semangatnya., menuangkan kasih sayang,serta menguatkan hati.
Akhirnya saya membeli dan membaca buku ini. Entahlah semenjak mendengar dari salah satu stasiun radio yang mengulas tentang sipnosis atau isi buku (lupa) saya langsung pingin beli,tapi sayang sekali,waktu mendengar harga bukunya, Rp.300 000... Sebagus apapun buku itu,saya belum sanggup atau belum rela untuk membeli,meskipun buku itu bagus dan begitu saya harapkan. Beberapa waktu sampai saya bilang sama diri sendiri,kalau harganya cuma Rp.100 000 ga pakai mikir,nih buku pasti saya beli,dan saya akan menanti diskon 70% atau 50 %lah. Entah beberapa waktu sesudahnya keinginan itu seperti menghilang dari pikiran saya,tapi tiba tiba,saya lihat tumpukan buku ini di Gramedia Manado tempat saya tinggal kini,tanpa pikir saya langsung mengambil dan hanya berniat membaca sipnosisnya saja,kaget... harganya cuma Rp. 102 000 ,ga salah nih? Saya langsung bbm bos,minta tolong belikan di Jakarta saja ,biar lebih murah,tapi...di Jakarta malah masih 300 000. Hari berikutanya saya kembali ke Gramedia lagi,tanpa pikir panjang saya langsung beli bukunya,dan kebetulan otak saya lagi prima,saya langsung baca ini buku,yang sebelumnya terinstrupsi beberapa herlequin.
Saya tidak paham dengan politik,tapi kalau boleh jujur dari hati, saya mengidolakan sosok Pak Harto,dan waktu tragedi Mei saya pun merasakan begitu syok melihat liputan di tivi, meskipun saya tidak begitu memahami apa yang terjadi,tapi sesudahnya saya sukses menangis membaca beberapa novel tentang tragedi Mei (fakta di balut fiksi), tapi saya tetap tidak bisa membenci sosok Pak Harto yang di klaim bersalah. Saya orang kampung dan yang saya tahu,era atau jaman Pak Harto saya merasakan hidup yang damai,masyarakat kecil merasakan betapa makmurnya (cuma yang saya lihat lo,karena masa itu saya masih terlalu kecil untuk memahami segala sesuatu ) ... Entahlah kalau di ibukota seperti apa.
Membaca kisah Pak Harto membuat saya berfikir,dan berkata dalam hati,apa pun yang terjadi,beliau adalah pahlawan dimata saya.
Meskipun di buku ini hanya dikisahkan yang baik baiknya saja,tidak masalah bagi saya,saya lebih senang mengenang sosok Pak Harto yang baik baik saja,dan saya jadi bisa mengingat sosok Ibu Tien yang sudah buram dalam pikiran saya...foto foto yang bertebaran yang menampilkan sosok Pak Harto membuat saya tersenyum dan terkelitik untuk berkomentar secara spontan. Saya tidak menyesal membeli buku ini ,dan saya merasa senang bisa mengenang sosok Pak Harto yang penuh senyum ,welas asih dan sangat sangat ngayomin... dari dulu sampai beliau wafat,senyumnya itu loh,bikin wow .
